Arti Gelar Mpu pada Masa Kerajaan Nusantara : Okezone Nasional

Berita127 Dilihat

MPU atau Empu diidentikkan dengan pembuat keris atau benda pusaka semasa zaman kerajaan-kerajaan. Namun, kata mpu sebenarnya merupakan gelar yang diberikan kepada seseorang.

Di masa Kerajaan Kediri, nama Mpu Bharada menjadi yang dikenal. Di masa Kerajaan Singasari, nama Mpu Gandring menjadi yang paling dikenal.

Namun, selain nama Mpu Gandring, ada nama Mpu Purwa ayah dari Ken Dedes perempuan cantik yang dinikahi oleh Tunggul Ametung, penguasa Tumapel kala itu. Sosok Mpu Purwa bukanlah sebagai orang yang membuat keris dan benda pusaka, tetapi merupakan pendeta pemuka agama, sebagaimana dikutip dari “Hitam Putih Ken Arok : Dari Kejayaan Hingga Keruntuhan”.

Namun, siapa sangka sebenarnya gelar mpu bukanlah untuk orang yang membuat keris, melainkan sebagai pemilik atau majikan. Kata mpu berarti penguasa, majikan, atau pemilik. Kata ini pula masih dijumpai di dalam Bahasa Indonesia.

Pada zaman Kerajaan Medang, pengguna gelar mpu tidak harus laki-laki. Misalnya, permaisuri Mpu Sindok menurut data-data prasasti bernama Mpu Kebi.

Sementara pada zaman Singasari dan Majapahit, gelar mpu hanya dipakai golongan terhormat, tapi bukan bangsawan. Itu hanya berlaku untuk laki-laki.

Beberapa laki-laki yang mendapat gelar mpu, misalnya Mpu Nambi atau Mpu Sora. Pada zaman Kesultanan Mataram gelar mpu tergeser oleh gelar kiai. Gelar mpu kemudian hanya dipakai para pembuat senjata. Ini diperkirakan berasal dari popularitas tokoh Mpu Gandring dalam Pararaton atau Empu Supa dari naskah-naskah babad.


Follow Berita Okezone di Google News


Sosok Mpu Gandring di masa Kerajaan Singasari diyakini sebagai pembuat benda pusaka. Mpu Gandring dikenal memproduksi senjata di rumahnya. Ia biasanya menggunakan besi khusus pasokan dari Sofala, Walunggu, untuk memenuhi pesanan senjata dan benda pusaka ini.

Baca Juga  Menhub Ungkap Biang Kerok Macet Horor di Pelabuhan Merak : Okezone Economy

Maka tak heran ketika Ken Arok berkunjung ke rumah Mpu Gandring untuk meminta dibuatkan keris dan senjata, rumahnya sedang sepi. Sang pengawal penguasa Tumapel itu pun bertanya ke Gandring. Mengapa rumahnya sepi dan tidak tampak aktivitas produksi senjata?

Mpu Gandring pun menjawab bahwa dirinya untuk sementara libur dulu karena tidak ada pasokan besi. Sebab besi yang digunakan olehnya merupakan pasokan khusus dari Sofala, Wulunggu.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *