Dampak Monopoli Cukai Semasa Pangeran Diponegoro: Dari Godaan Prostitusi hingga Judi : Okezone Nasional

Berita153 Dilihat

MONOPOLI cukai semasa Pangeran Diponegoro berdampak panjang terhadap masyarakat kala itu. Konon kondisi menyedihkan juga dialami oleh beberapa masyarakat dari kaum Tionghoa non pribumi di Kedu selatan di tahun Juli 1825.

Hal ini konon juga diperparah oleh aspek lain dari kebijakan pemerintahan Eropa pasca-1816, yaitu monopoli gerbang cukai (bandar). Dalam tempo hanya 12 tahun sejak 1812 hingga 1824, terhitung sejak Inggris masuk mengambil alih pemerintahan, pendapatan dari bandar di wilayah Yogya saja naik hampir empat kali lipat




Kenaikan pendapatan ini didorong oleh menggeliatnya perdagangan regional pada periode pasca-Giyanti. Selama 70 tahun yang damai sebelum pecahnya Perang Jawa gerbang cukai dibangun di hampir setiap pintu masuk desa dan dusun.

Van Sevenhoven, salah seorang komisioner Belanda yang ditugaskan untuk memeriksa kinerja pengelolaan gerbang cukai, berkesimpulan bahwa bandar itu bersama dengan serikat buruh kuli panggul merupakan dua momok terbesar bagi masyarakat petani Jawa sebelum perang, sebagaimana dikutip dari “Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro : 1785 – 1855”.

Ia melukiskan bagaimana seorang Jawa yang pergi ke pasar terpaksa harus mengantre berjam-jam sebelum barang muatannya diperiksa, dan jika kerbaunya selama menunggu merumput di tanah milik gerbang cukai, ia akan dikenakan denda. Jika ia tak sanggup membayar denda itu, kerbaunya akan ditahan, sehingga tidak jarang seorang petani terpaksa menyerahkan sebagian besar keuntungannya panen padi untuk menyewa kembali kerbau miliknya sendiri dari bandar setempat.

Saat kaum petani itu menunggu dalam antrian panjang di gerbang cukai, hingga sering sampai harus bermalam, muncul godaan tambahan yang tak kalah gawat dan memperdaya, yaitu ronggeng berupa gadis-gadis penari, prostitusi, permainan judi kartu, dan candu. Semua ini dapat menguras lebih banyak uang mereka yang tinggal sedikit.

Baca Juga  Jadwal Konser Di Palu Terbaru

Jika nasib sedang kurang beruntung, dalam berjudi kartu seorang petani sering terpaksa sampai harus melepas pakaian dan menyerahkan uangnya yang terakhir. Untuk menutup biaya gerbang cukai, banyak pedagang kecil dan petani penggarap Jawa terpaksa meminjam uang dari kepala desa (lurah) mereka. Dalam kondisi seperti ini, sering seorang petani penggarap banting stir menjadi bandit atau kuli panggul di jalan – jalan, ketimbang harus menanggung malu karena pulang ke desa dengan tangan hampa.


Follow Berita Okezone di Google News


(wal)

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *